WELIRANG ... 22-24
Juli 2011
Semua berawal dari minggu pertengahan bulan Mei 2011.
Setelah kegiatan besar di Pramuka Unair yang telah memakan korban perasaan,
pikiran dan tenaga. Pertengahan Mei 2011 ini saya di SMS oleh kakak angkat saya
mas Dhanny, menanyakan kapan bisa menepati janji menemani ke Gunung Lawu.
Rencana awal yang akan dilaksanakan pada bulan juni minggu ke 3 diajukan Juni
minggu pertama karena memang kebetulan sedang libur Berturut-turut yaitu adanya
tes SNMPTN di UNAIR.
Setelah Outbond GENCorps tanggal 28-29 Mei 2011 tanggal
30 Mei yaitu tepatnya hari senin saya pulang ke Madiun untuk mempersiapkan diri
mendki ke Lawu yaitu besok tanggal 1 dengan Nizar, Mbak Reny, mas Dhanny dan
kedua rekan mas Dhanny. Awalnya rencana tanggal 31 berangkat namun ternyata
karena nizar masih ada agenda sehingga keberangkatan di undur menjadi tanggal 1
dan mas dhann pun menyetujuinya. Mas dhann, mbak peppy dan mbak sari sudah
stand by di Magtan terlebih dahulu.
1 Juni 2011, kami yang berencana berangkat pagi terpaksa
harus berangkat lebih siang karena persiapan kurang begitu matang dan harus
packing ulang. Hingga akhirnya sekitar pukul 09.00 baru berangkat dari rumah
untuk menuju ke Terminal karena kami mengendarai bus untuk sampai di Magetan.
Saya memboncengkan bude di depan,disusul ibu dengan mbak reny dan pak kusnen
dengan nizar. Semua berawal dari perjalanan yang sebenarnya meragukan, saat di
pertigaan Jl.Tanjung Manis ada seorang naik motor yang akan menyeberang tapi muntup-muntup
hingga akhirnya terjadilah
incident tersebut yang membuat saya
harus terkapar di UGD Dr.Soedhono madiun. Close Fraktur Radius Sinistra. Huft
.. seumur-umur tidak pernah saya membayangkan tangan saya harus patah dan harus
di Gyps selama sekian minggu bahkan
bulan . Kehidupan yang harus menahan HDR(read: Harga Diri Rendah) selama
beberapa minggu, sampai-sampai harus hutang PBP (read: Program Belajar
Praktika) satu minggu di IRD (read: Instalansi Rawat Darurat) … Maafkan saya bu
Erna L.
Perjalanan yang cukup berat sebenarnya bagi mental saya,
dimana saya setiap hari nya harus menjawab dari pertanyaan dan dengan jawaban yang
sama. Hingga pada puncaknya yaitu pada bulan juli minggu ketiga dimana harus
mengambil keputusan untuk ikut kegiatan pramuka dengan rekan ITS atau GBGC
dengan rekan-rekan GENCorps. Hingga pada hari jum’at pagi diaman saya SMS Nuril
dan Rafika yang ntah tidak tahu mengapa hari itu saya sensi sekali dengan sms
saya yang tidak dibalas. Namun seingat saya, saya sensi karena sebelumnya saya
sms mereka saya pikri mereka sudah siap untuk berangkat rapat. Karena mereka
bilang berangkat pukul 9 sedangkan pada saat itu sudah pulu setengah sepuluh.
Hingga akhirnya saya sensi dan teringat teman saya Mick ingin melakukan hiking
di Welirang dan Ary teman saya juga ingin ke Arjuno. Dari mereka berdua hanya
Mick yang membalas, dan saya ingin ikut. Setelah perdebatan yang agak panjang
akhirnya saya ambil keputusan untuk ikut ke Welirang walaupun kondisi tangan
saya yang di buntel salah satunya ini J.
Jum’at, 22 Juli 2011 pukul 18.00, saya SMS Mick belumada
tanda-tanda untuk berangkat padahal saya sudah siap untuk melaksanakan perjalanan.
Hingga akhirnya pukul 19.15 ada sms yang menyatakan “aku uda di gang” dan
akhirnya saya berangkat. Di Gang Mulper I dikenalkanlah saya dengan 2 teman
Mick yaitu Doni atau biasa di sebut Bolot, dan Zainal yang biasa di panggil
Ripin. Awalnya memang mereka berdua sangat pendiam hingga ketika perjalanan pun
saya mencoba sok akrab dengan mereka dengan memperlihatkan kemampuan-kemampuan
permbolangan saya( rodok gaya sitik lah
kadiv alam gituu .. hehehe)
Perjalan malam yang kesekian kalinya bagi saya. Jadi teringat Bulan oktober tahun lalu yang berencana ke Welirang juga dengan mas Kisam, mas Wikan dan kekasihnya mbak budiari. Perjalanan yang menggebu-gebu yang awalnya hanya untuk survey tempat diklat ekstra malah di gunakan untuk medaki welirang, akhirnya malah gak kesampaian karena dari tengah perjalanan mau ke pondokan terkena badai yang lumayan membuat kami hipoksia karena tidak membwa perlengkapan yang cukup untuk alat-alat savety kami (hm … bener-bener nantang alam ikii, akpook ). Kembali ke 22 Junli 2011, kami pun berangkat pada malam itu juga melalui prigen, dan berhenti sejenak di dekat alun-alun Sidoarjo untuk membeli nasi goreng karena kami memang kelaparan, tepanya sich hanya saya dan ripin yang lagi lapar. Ahahaha…
Perjalan malam yang kesekian kalinya bagi saya. Jadi teringat Bulan oktober tahun lalu yang berencana ke Welirang juga dengan mas Kisam, mas Wikan dan kekasihnya mbak budiari. Perjalanan yang menggebu-gebu yang awalnya hanya untuk survey tempat diklat ekstra malah di gunakan untuk medaki welirang, akhirnya malah gak kesampaian karena dari tengah perjalanan mau ke pondokan terkena badai yang lumayan membuat kami hipoksia karena tidak membwa perlengkapan yang cukup untuk alat-alat savety kami (hm … bener-bener nantang alam ikii, akpook ). Kembali ke 22 Junli 2011, kami pun berangkat pada malam itu juga melalui prigen, dan berhenti sejenak di dekat alun-alun Sidoarjo untuk membeli nasi goreng karena kami memang kelaparan, tepanya sich hanya saya dan ripin yang lagi lapar. Ahahaha…
Naik motor dengan Mick si jerapah sampai di pos pendakian
yaitu di samping Hotel Surya Prigen. Saya lah yang menjadi promoter bagi mereka
para kaum adam yag haheho’ … saya mendaftarkan diri saya dan teman-teman,
kemudian kami makan dan Packing … siap untuk berangkat. Pukul 23.00wib kami
mulai berangkat naik bersama rombongan dari ITS yang mau ke Arjuno, mereka
tidak ke pos perijinan. Kami kira mereka sudah ekspert tapi ternyata belum ada
yang pernah kesini hingga akhirnya naiknya bareng kami ( waa mereka mengira
kami sebaliknya, seperti yang kami kira kepada mereka). Perjalanan awal yang
cukup melelahkan. Seperti di awal pendakian, pasti 10 menit pertama serasa
ingin mati di tempat saja. Saya mau menyerah .. tapi itu hanya halusinasi.
Fikir saya “ masa’ masih di perkampungan udah mau nyerah nda? Kan kamu udah
pernah sampai hampir pondokan .. ayok nda ayook” dna ternyata di perjalanan
awal ini bukan saya orang yang lemah, yaitu bolot, seperti yang telah di
perkirakan Mick .. katanya kalau futsal pun dia yang paling sering istirahat
dan disini pahlawannya si Mick sama Ripin. Tapi pendapat pribadi saya sangat
terlihat sekali mereka bukannlah orang permbolangan karena memang beda gitu.
Sepanjang perjalanan dari bawah yaitu KAKE’ BODO ke KOKOPAN saya kuaat … horeee saya bisa,
walaupun perjalan yang seharusnya tak selama ini menjadi sangaat lamaaaa karena
memang kita berangkat bersama sampai atas ya harus bersama.
Walaupun
perjalan sangat lama dan butuh meningkatkan energy terus menerus kami
Alhamdulillah sampai di Kokopan pukul 3 pagi dan akhirnya langsung mendirikan
dome dan tidur. Hadoooh gak Pewee banget bubuk malam ini. Dasar cowok-cowok
bukan tampang Mapala ini tega banget, tempat ku gak enak tau. Coba kalo sama
nizar atau mas kisam saya pasti bakal jadi orang paling pewee bubuk malam ini,
mana duingin lagi. Saya ni yang paling gak bisa bubuk akhirnya saya bangun
paling duluan dan mulai membuat kericuhan agar semua bangun. Akhirya saya
berhasil membangun kan mereka .. dan shalat subuh dah J
. setelah itu saya keluarkan keahlian-keahlian saya di bidang permboalangan
semata-mtata bukan mau keminter tapi
mau berbagi ilmu pada mereka bagaimana kita harus bertahan.
Waaaaa
ini nii yang sangat menyebalkan dan membuat saya sangat terkejut. Mereka tidak
membawa nesting ( tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk ….:O), masak pakai kompor
paraffin dan mereka tidak ada yang
membawa korek (hoaaaaaaaaaa … TIDAAAAAKKKK!!!!). saya sangat terkejut … namun
mereka membawa panci, ada 2 lumayan saya agak tenang. Tapi TERNYATA … PANCINYA
BOCOR ya Allah ujian apa lagi ini .. mereka ini nggregetne, dan saya merasa sangat menjadi pahlawan karena dari
mereka tidak ada yang berpengalaman mbolang. Hhh .. tantangan buat saya. Hingga
pada akhirnya harus jual tampang untuk pinjam nesting sama pendaki yang lain.
O.M.G …. Kacau nii anak-anak.
Namun,
Alhamdulillah ada pendaki dari Sidoarjo yang membawa 2 nesting dan 2 kompor
gas. Awalnya kami ditawari dengan gas nya sekalian tapi saya bilang saja “ gak
usah mas, makasih pinjam nesting nya aja. Mmm.. dibalikin diatas aja gak papa
ya mas? Mas nya mau ke Arjuno apa Welirang?” dan ternyata mas nya yang itu mau
ke welirang juga dan Alhamdulillah lagi kata mas nya suruh bawa aja (hhmmm ..
baik banget sech mas, makasih ya …). Dan akhirnya terselamatkanlah kita so kita
bisa masak-masak lumayan lah. Pertama-tama kami membuat jelly yang saya bawa,
buat penambah energy nanti saat perjalanan. Waaa .. kacaunya karena kebanyakan
air, malah ndak jadi dan akhirnya hanya menjadi minuman bergula rasa Leci. Owh
iya, saya mau cerita ni. Disini ni saya adi pusat perhatian para pendaki,
karena kami ruame dan heboh sendiri dan lebih-lebih lagi saya cewek sendiri.
O.M.G .. ada sich pendaki lain yang ada ceweknya tapi mereka Cuma bawa daypack
kecil buanget dan ada salah satu yang terkesan sangat tomboy. Saya memang cewek
sendiri di rombongan ini, namun saya promotor bagi mereka, dan inilah yang
membuat saya jadi pusat perhatian. Ihiir .. selalu begitu dah.
Sekitar
pukul 9 pagi kami mulai packing dan berangkat melanjutkan perjalanan. Awal
perjalanan yang lumayan melelahkan karena kali ini tidak malam hari melainkan
pagi hari, jadi ya tau sendirilah kondisi pegunungan di siang hari yang begitu
panas dan, fiuuh .. melelahkan. Kami agak ketakutan awalnya, khususnya saya.
Karena kami hanya membawa sedikit air sedangkan sumber mata air akan ada lagi
stelah di PONDOKAN yang lama perjalanannya bisa 1,5 sampai 2 kali lipat semalam
(oowwhh .. tidak, kemarin aja butuh sekian liter sekarang pasti kurang, fikir
saya). Selama perjalanan kami terlalu senang dengan bersendau gurau yang gak
jelas gitu dech. Dasar 3 idiot tu, gara-gara tebak-tebakan di kokopan yang
berlanjut kebawa sampai di Pondokan.
Sepanjang
perjalanan ini kami memutuskan untuk mencari jalan pintas terus menerus
mengingat begitu panasnya udara dan jauhnya perjalanan. Saya sich masih bisa
berimajinasi jalan sampai di tempat saya terkena badai dahulu, tapi slepas dari
tempat itu saya tidak bisa berimajinasi lagi. Tapi kata si Ripin gak jauh-jauh
banget. “paling se jam “ dia bilang. Tapi tiap kali berhenti dan ditanyain
jawabannya “paling sejam” gitu melulu jadi hampir bikin kita males nanya dech.
Perjalanan yang cukup melelahkan di 23 Juli 2011 ini. Hingga sampai pada
tanjakan yang cukup tinggi dan membosankan akhirnya kami duduk sejenak sambil
bercanda. Sampai-sampai di tempat ini saya ketiduran gara-gara tempatnya yang
adem yaa… walaupun sebenarnya tidak strategis untuk istirahat. Setelah mereka
menunggu saya yang tertidur kira-kira setengah jam mereka menunggu saya
melaksanakan shalat dhuhur.
Kemudian
lanjutlah perjalanan kami, waaah capek juga saya hampir menyerah ini. Namun
dari tempat peristirahatan kami tadi tidak jauh adalah kokopan, ya sekitar 1,5
jam lah dengan berjalan normal namun kami terlalu suka berhenti dan bercanda
tidak jelas gitu dech. Then disuatu tempat yang lumayan uenak buat bubuk lagi
saya bener-bener ndak bisa nahan kebelet sipip dan mereka bertiga dengan baik
hati nya menunggui saya yang sedang kebingungan mencari tempat
persembunyian(hehehehe …) setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan
berfoto-foto (waaa ini nii yang bikin capek ilang). Perjalanan setelah in tidak
begitu menyusahkan karena jalanan datar dan tidak terlalu menanjak. Dan
akhirnya sampailah kita dan bertemu mas-mas baju item-item tadi pagi. Mereka
membuat camp di bawah pondokan karena mereka menyatakan “iya mas, monggo duluan
diatas udah pada penuh tadi. Tapi udah banyak yang naik kok mas … jadi
kemungkinan udah ada yang kosong kok” akhirnya kami naik (hwaaaa tinggi juga
naiknya nii). Setelah sampai di atas ketemu rombongan lain yang akan melanjutkan
perjalanan ke Arjuno (Ati-ati mas,, disini nii ada mas-mas yang haduuh lemes
saya ngelihatnya ).
Kami
mencari tempat camp, waw ... ini sudah sore ternyata akhirnya kami langsung
mendirikan tenda dan langsung turun untuk ambil air. Ternyata dingin di pondokan
ini beberapa kali lipat dibandingkan kokopan dan yang pasti agak dingin dikit
dibanding dengan pasar bubrah merapi (brrrr …). Setelah itu malam sudah tiba,
saya merapikan dome dan membuat masakan sedangkan 3 idiot mencari kayu bakar
untuk menghangatkan diri mala mini. Dan malam pun cepat sekali menghampiri
kami, shalat maghriblah saya dan kemudian sudah terlewat begitu saja adzan isa’
. kami masak sambil kedinginan didepan tenda dan tak lama kemudian datanglah
beberapa pendaki yang membuat tenda disebelah kami yaitu dari salatiga yang
terdiri dari 4 orang. Mereka akan melaksanakan pendakian ke Arjuno dan salah
satu dari mereka belum ada yang pernah kesana sama sekali. Kemudian datang lagi
dengan scraft merah putih, dan saya mengajak mereka berbincang dan ternyata
adalah anak buah dari mas yacob. Kemudian malam semakin larut. Saya ada di luar
tenda untuk melihat bintang yang sudah banyak bertaburan di luar, wwaaaahhh ..
kali ini saya senang sekali banyak bintangnya dan saya 2 kali melihat bintang
jatuh.
Selain
dipenuhi rasa gembira, kami juga dilinangi rasa bingung dimana masnya yang
meminjami nesting sudah mau lanjut turun (lha .. terus kita masak pake apa???)
akhirnya bahan makanan yang ada pun kami masak sekenanya tapi habis. Yaa.. gak
papalah hingga akhirnya kami harus mengembalikan nesting malam ini juga setelah
kepikiran beberapa ide untuk cari pinjeman, tapi ya sudah lah tidak berjodoh
dengan nesting. Heheheh ….
Akhirnya
malam ini adalah malam penantian untuk ke puncak welirang. Hmmm … awalnya saya
rasa malam ini begitu indah untuk menyaksikan bintang-bintang malam sambil
ngobrol-ngobrol gak jelas sama 3 idiot itu Dan malam pun semakin larut, saya
pun tidak sanggup untuk menikmati indahnya kerlipan bintang malam ini. Dilanjut
dengan tidur.
Jam
weker handphone saya pun berbunyi, dan saya lah yang bangun pertama kali. “
ayok rek ndang tangi, ki wes jam 3 lhoo … “ dan 3 orang itu begitu susah untuk
dibangunkan namun tetap mau bangun, hehehe… lalu pagi ini ketika kami keluar
dari tenda teman di kanan kiri kami sudah tidak ada karena mereka sudah memulai
perjalanan ke arjuno, then kami
berangkat ke Puncak.
Waaaa…
saya pikir perjalanan tidak akan selama ini, tapi ternyata walaupun jalannya
datar namun perjuangannya begitu panjang dan berdebu. Oh my God … seberapa jauh
lagi niii??? Pada awalnya saya masih semangat untuk mendapatkan sunrise pagi
ini, namun setelah perjalanan beberapa waktu saya menyerah untuk mengejar
sunrise dan kami mulai santai dalam perjalanan sambil berfoto-foto ria . Setelah menyerahpun ternyata perjalanan juga masih begitu lama, dan kami
akhirnya ditemanai matahari sambil berjalan menuju puncak yang berliku-liku dan
begitu jauh.
Tikungan
pertama … wuiiiiihhh … adem yaaa …
Tikungan
ke dua … waaaah ternyata juraaang ..
Tikungan
ke tiga, hadoooh … munggah maneeeh???
Tikungan
selanjutnya, hwaaah .. tambah munggah???
Dan
semakin naik, semakin naik, dan semakin naik lagi. Dan akhirnya sampailah kami
di Puncak welirang walaupun saya sampai paling terakhir karena saya sudah hampir
putus harapan. Ternyata harapan itu masih ada J. Akhirnya saya
melihat puncak welirang juga. Setelah istirahat beberapa waktu karena saya
menjadi yang terakhir kami berfoto-foto ria dan melihat ke seberang. Dalam
benak saya langsung terpikir [wah ,… kaya di Merapi, dan terlintas merindukan
puncak merapi yang begitu indah beberapa waktu lalu sebelum erupsi]. Setelah
itu kami bertanya-tanya “yang bener puncak welirang tu yang mana sech???” dan
akhirnya mick mencoba ke puncak berbatu yang menuju ke kepulan asap belerang,
dan saya waktu ingin mengikuti begitu malas karena super jauh (huh ,, tenaga
udah mentok ni).
Kemudian
sambil menunggu mick dan ripin yang sedang membentuk sebuah tulisan dari batu,
saya memanjat sebuah batu besar. Dan HP saya langsung berbunyi pertanda ada sms
saya pun terkejut kemudian saya membuka facebook, hmm … tambah terkejut lagi
karena ternyata teman-teman saya berempati semua kepada saya yang kemungkinan
sangat besar mengalami HDR karena kondisi saya yang tidak maksimal ditampilan
fisik. Then … saya sadar dan lega, daripada saya harus mengumbar emosi karena
bukan kesalahan siapa-siapa lebih baik saya menghindar dan mencari ketenangan.
Puncak Gunung dan taburan bintanglah yang mengobati semua duka lara saya …
enough marahnya .
Setelah
puas menikmati puncak akhirnya kami pun turun, ciee … gaya banget ini saya,
jalan duluan di depan dan ketika mulai dengkul racing ternyata saya kepleset
waktu ditanah lapang yang tadi ingin kami buat tempat foto-foto. Dan
Alhamdulillah perjalanan kebawah berjalan dengan lancer walaupun saya dan mick
datang belakangan karena memang selain panas juga sudah malas selakali.
Sampainya di basecamp, hmm.,.. lapar sekali nasib naik gunung tanpa persiapan
sama sekali - kapokmu kapan nndaa - ... kemudian kami packing dan bersiap
untuk turun, itu pun kami tidak langsung turun melainkan ke tempat yang lebih
rendah kemudian kami lanjutkan untuk tidur sejenak karena memang kondisi sangat
lelah apalagi kami dilanda kelaparan J. Setelah
berisitirahat perjalanan berjalan sangat lancar sampai dengan Surabaya dan
akhirnya kelaparan hingga bernawaitu semua kalo sampai di bawah pokok e maem
soto :D heheheh .. Alhamdulillah sampai bawah sudah kelakon maem soto didaerah
sidoarjo. Express vacation ke Welirang is Enough.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar